Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2019

Benarkah Ponsel Memiliki dampak Bagi Bayi di dalam Kandungan?

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Ponsel telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, sehingga sangat sulit membayangkan hidup kita tanpanya. Dari remaja hingga orang-orang di usia tua, semua orang kecanduan alat ini dan bahkan pada wanita hamil.

Image

Dan ada satu hal lagi yang kita semua tahu penggunaan ponsel yang berlebihan bisa berbahaya bagi kita. Tetapi apakah itu berbahaya juga bagi bayi di dalam rahim?

Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa wanita hamil yang banyak menggunakan ponsel lebih mungkin melahirkan anak-anak dengan masalah perilaku.

Para ilmuwan di Denmark melakukan penelitian di mana mereka meneliti paparan prenatal dan postnatal pada ponsel dan masalah perilaku pada anak-anak. Penelitian ini dilakukan pada sekelompok wanita yang anak-anaknya berusia sekitar tujuh tahun. 

Mereka diberi kuesioner tentang kesehatan dan perilaku anak-anak mereka, dan riwayat mereka pada penggunaan telepon. 

Pada akhirnya, ditemukan bahwa anak-anak perempuan yang lebih terpapar ponsel sebelum dan sesudah melahirkan adalah hiperaktif dan memiliki beberapa masalah perilaku.

Tapi ini hanya satu studi dan itu tidak membangun hubungan yang kuat antara penggunaan ponsel selama kehamilan dan masalah perkembangan pada anak-anak.

Studi ini tidak dianggap sepenuhnya benar karena microwave, televisi, laptop, ponsel memancarkan gelombang radio tingkat rendah yang disebut radiasi elektromagnetik non-pengion.

Radiasinya lebih ringan daripada radiasi pengion, yang dipancarkan oleh sinar-X dan pemindai CT. Jadi, tidak mungkin itu berbahaya bagi anak yang belum lahir. Yang perlu digarisbawahi adalah meskipun penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan yang kuat, tetapi penting untuk sedikit berhati-hati dan membatasi penggunaan Anda.

Sumber : Akurat.co


Editor : Ges

Selasa, 15 Oktober 2019

Disebabkan Oleh Stres Berlebih Yang Menyebabkan Sulitnya Hamil

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Bagi pasangan yang sedang berjuang untuk mendapatkan kehamilan, nampaknya bisa perhatikan tingkat stres. Dilansir dari Parents, stres berlebih dapat mempengaruhi kesuburan.

Image

Bagi beberapa wanita, stres kronis dapat mempengaruhi ovulasi dengan mengubah sinyal ke hipotalamus, pusat otak yang mengatur beberapa hormon yang memicu ovarium untuk melepaskan sel telur setiap bulan.

Wanita yang mengalami stres tanpa henti dapat mengalami ovulasi lebih jarang, sehingga lebih sulit untuk merencanakan pembuahan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres juga dapat memengaruhi kadar testosteron dan produksi sperma pada pria.

Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas California San Diego menunjukkan, wanita yang sedang stres dan menjalani program bayi tabung (IVF) memiliki angka keberhasilan yang rendah.

Di lain hal, susah hamil merupakan penyebab stres, kecemasan, bahkan depresi. Studi di Jepang menunjukkan, sekitar 40 persen wanita yang punya masalah kesuburan ternyata mengalami gangguan kecemasan atau depresi sebelum mereka menjalani program kehamilan.

“Terutama jika kita bisa mengelola stres pekerjaan itu sehingga tidak merasa cemas terus-menerus atau mengalami gejala stres berat seperti susah tidur, makan banyak atau tidak nafsu makan, serta kehilangan minat menjalankan kegiatan sehari-hari,” kata dokter ahli fertilitas, Alice Domar dari Boston IVF.

Stres memang tidak bisa dihindari kedatangannya, tetapi tentu bisa dikelola dengan baik agar tidak berkelanjutan.

Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Kamis, 29 Agustus 2019

Perhatikan! Kram Kaki, Sinyal Liver Bermasalah

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Dalam waktu-waktu tertentu, Kram Kaki pasti pernah dialami setiap orang. Hal tersebut membuat Kram Kaki menjadi dianggap suatu hal yang umum atau biasa terjadi.


Tapi penting Anda ketahui, dilansir AkuratHealth dari MedicalDaily, Kram Kaki bisa menjadi salah satu sinyal bahwa Anda memiliki masalah penyakit Liver.

Menurut Atif Zaman, MD, M.P.H., dari associate NEJM Journal Watch Gastroenterology, prevalensi kram otot pada pasien dengan sirosis berkisar 22-88 persen, tergantung pada berbagai definisi kram.

Memang, mekanisme spesifik yang menyebabkan kram otot yang dialami oleh pasien sirosis belum sepenuhnya dieksplorasi.

Tetapi ada alasan untuk kamu percaya bahwa metabolisme energi, fungsi saraf, elektrolit, dan volume plasma berperan dalam kontraksi otot yang menyakitkan, terutama di kaki.

Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan oleh para peneliti dari Departemen Gastroenterologi dan Hepatologi Rumah Sakit Umum JA Hiroshima di Hatsukaichi, Jepang, juga menemukan bahwa kram otot juga relatif ditemukan pada pasien dengan Penyakit Hati kronis.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien wanita, penderita diabetes, dan mereka yang memiliki penyakit Ginjal Kronis di atas penyakit Liver kronis, cenderung mengalami kram otot.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa pasien dengan Penyakit Hati berlemak non alkohol cenderung mengalami kram otot karena berkurangnya massa otot.

Setelah mengungkapkan semua hal tersebut, adakah alasan untuk kamu mencurigai bahwa Kram Kaki yang dialami mungkin disebabkan oleh Penyakit Hati?

Yup, memang agak sulit untuk mengungkapkan kram yang kamu alami akibat Liver atau bukan. Karena Kram Kaki bisa datang juga dari penyebab lain seperti Kehamilan, olahraga ekstrem, asupan obat-obatan seperti statin, dan lainnya, menurut NHS Inform.

Satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang menyebabkan Kram Kaki adalah berkonsultasi dengan dokter.

Jika merasa Kram Kaki sudah mengganggu kualitas hidup dan mengganggu tidur, maka jangan buang waktu lagi, segera hubungi dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges