Tampilkan postingan dengan label Pola Asuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pola Asuh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2019

Tak Ada Gunanya Memarahi Anak!

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Tingkah laku seorang anak yang tidak patut dan dikehendaki orangtua biasanya akan membuat ayah maupun ibu bisa menjadi terpancing untuk memarahinya. Saat tingkah laku anak-anak makin menjadi, hal itu terkadang membuat orangtua refleks membentaknya.

Image

Tapi ketahuilah bahwa meskipun Anda sudah berteriak hingga membentak, itu tak akan membuatnya jera. Sebab, mereka hanya bakal menurutinya sementara waktu saja. Memarahi anak hingga membentaknya hanya akan membuat mereka takut.

Para orangtua perlu tahu jika anak-anak akan menjadikan ayah atau ibunya sebagai panutan dalam berbagai hal. Jika kemarahan dan tindakan negatif dianggap sebagai hal yang normal dalam keluarga, maka itu akan mencerminkan perilaku anak ke depannya.

"Pekerjaan nomor satu sebagai orangtua setelah memastikan keselamatan anak-anak adalah mengelola emosi diri sendiri," ungkap penulis dan pendidik orangtua, Laura Markham, Ph.D., dilansir AkuratParenting dari Health Line.

Emosi dan kemarahan dengan penyampaian suara yang keras tidak akan menyampaikan pesan dengan jelas pada anak, yang cenderung membuatnya tutup kuping.

Anak-anak pun tidak akan berubah setelahnya karena sikap emosi hanya akan semakin sulit mendisiplinkan mereka. Setiap kali orangtua membentak anak mereka itu akan menurunkan daya penerimaan mereka.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa membentak anak akan membuat mereka jadi lebih agresif secara fisik dan verbal. Berteriak secara umum, apapun konteksnya adalah ekspresi kemarahan yang membuat anak-anak ketakutan dan merasa tidak nyaman.

Sedangkan sikap tenang orangtua akan membuat anak-anak merasa dicintai dan diterima, terlepas dari perilaku buruknya. Perlu diingat bahwa penolakan dan penghinaan verbal dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan emosional.

Hal tersebut terbukti memiliki efek jangka panjang pada anak, seperti kecemasan, harga diri rendah dan peningkatan agresifitas.

Membentak anak juga akan membuat Mereka lebih rentan terhadap intimidasi, karena pemahaman tentang batas-batas psikologi yang sehat dan harga diri menjadi tidak seimbang.

Mengelola emosi saat anak-anak berperilaku yang tidak sesuai dan dikehendaki orangtua sangatlah penting. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan pendekatan dengan tindakan yang lebih positif, seperti berbicara dengan cara yang lebih baik lagi.

Jika anak merengek dan kesal setelah dimarahi, tunjukkan padanya cara berbicara yang lebih baik dan ramah. Setelah emosi mereka mereda, cobalah permainan ringan untuk saling bicara satu sama lain.

Misal, jika anak bertengkar dengan saudara seperti kakak atau adiknya, maka ajak mereka terlibat dalam sebuah permainan yang melibatkan kerjasama. Dari situ, ajarkan mereka untuk berkomunikasi tanpa emosi, sekaligus melatih kesabaran.

Sumber : Akurat.co

Editor : Ges

Senin, 02 Desember 2019

Ayah, Begini Caranya Membagi Waktu Tuk Anak di Tengah Kesibukan Bekerja

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Tak bisa dipungkiri bahwa peran orangtua terutama ayah dalam pola asuh, sangat penting untuk pertumbuhan anak. Karena banyak manfaat yang pastinya akan didapatkan. 

Image

Manfaat tersebut berupa kebugaran tubuh sampai anak memiliki pengetahun lebih tentang gender. Namun, tak sedikit para ayah yang sulit untuk memberikan waktu terbaiknya dikarenakan sibuk bekerja.

Lantas, bagaimana caranya agar waktu bersama anak lebih maksimal? 

"Masalah waktu sebenarnya tidak tergantung jumlah, tetapi kualitas yang diberikan ayah kepada anak," kata Dessy Ilsanty Psikolog Klinis saat dihubungi AkuratParenting, Senin (2/12). 

Lanjut Dessy, setiap orangtua yang sibuk bisa memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin, seperti makan pagi bersama. Tetapi, harus ada komunikasi yang intens.

"Pergi pagi, pulang malam, caranya bisa makan bersama tetapi memang benar-benar ngobrol. Bisa menanyakan kabar, ada hal yang baru di sekolah," lanjutnya. 

Lebih lanjut, setiap ayah juga bisa meluangkan waktu di hari libur. Tetapi, harus ada penjadwal agar semua terencana dengan baik.

"Harus disengaja setiap hari libur. Waktu harus didedikasikan khusus bersama keluarga agar tetap harmonis, dan membatalkan perjanjian lain yang ingin direncanakan seperti meeting kantor," tandasnya. 

Sumber : Akurat.co

Editor : Ges

Kamis, 28 November 2019

Jangan Bereaksi Berlebihan Ketika Anak Berbicara Kotor

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Tingkah laku anak-anak memang kerap kali mengejutkan. Seperti misalnya, tiba-tiba anak melontarkan kata-kata kasar atau kotor hingga tidak sopan.

Image

Para ahli mengatakan, usia 3-5 tahun adalah periode ketika anak mulai mengetahui bahasa yang kotor. Karena balita mendengar dan belajar sampai sembilan kata baru setiap harinya, yang ia dengar dari televisi, hingga percakapan orang di sekitarnya.

Nah, tak sedikit orangtua yang bingung menghadapi tingkah sang buah hati dalam peristiwa ini. Dilansir dari Parents, ada yang bisa orangtua lakukan untuk merespon ketika anak-anak melontarkan kata kotor.

Tetap tenang

Anak-anak penuh rasa ingin tahu. Jika ia menanyakan arti sebuah kata yang belum pernah diketahuinya sebelumnya, jawablah dengan tenang. Beri penjelasan yang bisa ia pahami dan jangan bereaksi berlebihan.

Karena, jika reaksi yang berlebihan justru membuat anak semakin penasaran. Cobalah untuk mengatakan, “Ini adalah kata yang dipakai oleh beberapa orang, tapi bukan kata yang baik dan tidak pantas untuk anak kecil”. Atau jelaskan padanya, “Kita tidak memakai kata seperti itu di keluarga kita”.

Perhatikan anak lebih detil setelah mendapat penjelasan

Bila si kecil masih tetap memakai kata kotor setelah diberi penjelasan, evaluasi mengapa perilaku ini terjadi. Psikolog Emily Lowell, mengatakan, anak terkadang masih berperilaku demikian karena ada yang belum terpenuhi rasa penasarannya.

Tugas orangtua bisa mencari tahu dan membantu anak memenuhi rasa penasaran dengan cara yang baik. Misalnya saja, ketika anak mengucapkan kata kotor karena butuh perhatian, cari kesempatan untuk memujinya ketika ia berperilaku dan menggunakan bahasa yang sopan.

Terus Berkomunikasi

Timothy Jay, Ph.D, profesor psikologi di Massachusetts College of Liberal Arts, North Adams, mengatakan, anak-anak berusia lima hingga enam tahun banyak ingin tahu tentang bagian tubuh mereka dan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

Jadi, jangan kaget anak akan ingin belajar tentang perbedaan fisik tersebut dan ingin membicarakannya. Tak perlu menghindari pertanyaannya, berikan informasi yang tepat sesuai usianya, tanpa harus membohongi.

So, jalin komunikasi dengan baik apapun pertanyaan sang buah hati. hal tersebut dapat membantu sang anak lebih terbuka, dan juga membuat anak percaya menceritakan tentang hal apapun kepada orangtua tanpa ada batasan.

Sumber : Akurat.co

Editor : Ges

Jumat, 27 September 2019

Zivanna Letisha Tidak Ajarkan Anak Konsumi Makanan Manis Sejak Dini

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Sebagai ibu, kamu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Anak-Anak agar tumbuh kembang mereka lancar, sehat dan juga pintar.


Maka, para ibu Indonesia harus mulai memperhatikan asupan Anak-Anak supaya mereka tumbuh dengan sehat dengan mengonsumsi berbagai macam makanan yang kaya akan nutrisi.

Salah satunya adalah tidak membiarkan mereka mengonsusmsi makan-Makanan Manis secara berlebihan.

Seperti yang dilakukan oleh Putri Indonesia 2008, Zivanna Letisha, yang mengajarkan kepada Anaknya, Ryoji Ibrahim Harahap, untuk megatur asupan makanan Anaknya. Ia bahkan mengaku sangat galak soal makanan yang diberikan kepada Anaknya.

"Aku selalu mencoba apa yang dikasih ke Anakku misalnya kayak bubur hati, sebelum disuapi ya aku coba dulu. Termasuk, beberapa makanan lainnya aku cenderung galak soal makanan karena seribu hari kehidupan harus diberi makan yang bergizi. Jadi, kalau diberi makanan sembarangan, aku sedih banget," katanya ditemui AkuratParenting di acara 'Peluncuran Puregrow Organic' di Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, Kamis, (26/9).

Bahkan ia juga sampai berdiskusi dengan suaminya, Haries Argareza Harahap, tentang mengatur pola makan sang buah hati. Misalnya, melarang makan-makanan yang manis sejak dini.

"Aku sampai diskusi berdua tentang bagaimana kalau Anak minta makan Es Krim atau cokelat, itu Makanan Manis. Akhirnya, ketika Anak minta aku hanya bilang, 'Itu punya kakak, kamu minum jus saja ya', aku sampai seperti itu. Makanya, aku sering bikin Es Krim semangka atau Es Krim alpukat karena taste-nya manis alami," jelasnya.

Bahaya penyakit karena kelebihan gula juga menghantui Anak-Anak. Maka sebaiknya ibu tak boleh banyak memberi Makanan Manis agar ia tak terbiasa sejak kecil. Luangkan waktu sejenak untuk membuat makanannya sendiri, karena dijamin akan lebih higienis, kaya nutrisi dan yang pasti sehat.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Selasa, 24 September 2019

Coba Cara Ini Ketika Anak Tak Mau Dengarkan Orangtua

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Sebagai Orangtua, pastinya pernah merasakan momen-momen dimana sang buah hati sepertinya tidak bisa mendengarkan perkataan Anda.


Biasanya, Orangtua merasa jengkel karena apa yang diminta seperti diabaikan Anak. Apa yang dilarang justru dilakukan, dan sebaliknya.

Tak perlu khawatir, dilansir AkuratParengting dari Parents, jika Anak terus-menerus mengabaikan perintah, ada yang cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan perhatiannya.

Perlu diingat, Anak juga bisa mengalami stres.

Banyak faktor penyebab ia mengabaikan perintah Orangtuanya, salah satunya mungkin ia stres di sekolah. Maka, mengajak berbicara Anak yang penuh dengan tekanan dan nada tinggi tidak akan membuatnya mendengarkan Anda.

"Berteriak untuk mendapatkan perhatian Anak tidak akan banyak membantu. Justru membuat mundur selangkah," kata Joseph Shrand, MD, seorang psikiatri di Harvard Medical School.

Hindari pemberian instruksi saat-saat ketika Anak terpaku pada televisi atau permainan video. Ulangilah instruksinya sebagai taktik yang membantu Anak mengingat apa yang perlu dilakukan.

Buatlah ia menyadari kehadiran Orangtuanya. Misalnya dengan menepuk lembut pundaknya atau melontarkan humor yang bisa membuatnya tertawa sehingga ia akan teralihkan dari apa yang sedang menyita perhatiannya.

Kemudian, hindari mengulang memanggil nama Anak. Itu hanya akan membuat tenggorokan sakit. Cobalah berada di dekatnya dan beritahu bahwa Orangtuanya hanya akan menyampaikan perintah satu kali dan ia harus memahami akibatnya jika tidak memberi respon atau melakukan yang diminta.

Terakhir, dengarkan dia. Terkadang Anak bersikap mengabaikan sesuatu karena mereka merasa tidak ada yang memperhatikannya. Orangtua tanpa sadar sangat sibuk dengan dirinya dan hanya fokus pada hal yang dianggap signifikan, namun sebenarnya kurang bagi Anak.

Jika Anak merasa diperhatikan, dipahami dan dihormati oleh Orangtuanya, mereka akan lebih peduli dan mendengarkan apa yang disampaikan ayah ibunya.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Senin, 19 Agustus 2019

Bahayanya Dampak Dari Perselingkuhan Orangtua pada Anak

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Perselingkuhan tentu selalu membawa kerugian. Termasuk, menimbulkan gangguan emosional kepada Anak. Ini sangat memengaruhi emosional Anak, akibat keseharian yang berubah. 


Hal tersebut dikatakan langsung oleh Nadya Paramesrani, selaku Psikolog Keluarga dan Anak dari Rumah Dandelion, saat di hubungi AkuratIntim, Minggu, (18/8). 
"Tentu akan menganggu emosional Anak, fungsi sehari-hari yang diberikan orangtua tidak akan berjalan normal," katanya.
Lanjut Nadya, ketika ada perselingkuhan Anak akan merasa cemas karena tidak ada pendampingan dengan penjelasan oleh orangtua. Akibatnya terjadi miss kontrol yang membuat kebiasan Anak akan berubah. 
"Perubahan akan terjadi kalau sudah ada miss kontrol. Anak akan lebih tidur larut malam, dan parahnya Anak akan mendevelop ke dunia sekolah mereka," lanjutnya.
Bahkan dilansir dari berapa sumber, efek perselingkuhan sangat berpengaruh terhadap kepercayaan Anak pada orang lain. Anak akan beranggapan bahwa orang yang mereka percaya akan berbohong dan menyakiti mereka. Kelak dewasa cenderung tidak percaya setia pada satu orang.
Rasa marah juga muncul ketika Anak mengetahui perselingkuhan terjadi pada orang tuanya. Emosi Anak akan terpecah belah antara membenci dan sedih karena ditinggalkan sosok yang mereka cintai. Ini juga bisa menimbukan depresi berat pada Anak
Cukup rasanya ketika banyak dampak negatif terjadi pada Anak dalam jangka waktu yang panjang.
Yuk, terus menjaga keharmonisan rumah tangga!


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges