Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2019

Tidak Perlu Lari Lama-lama untuk Tangkal Kanker Payudara

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Dalam memperingati Hari Kanker Payudara Sedunia yang jatuh setiap 26 Oktober, studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, membawa kabar baik.

Image

Dilansir AkuratHealth dari laman Runner's World, Olahraga Lari memiliki manfaat untuk mencegah penyakit Kanker Payudara dengan durasi lari yang tidak terlalu lama.

Penelitian terbaru ini membandingkan efek dari aktivitas olahraga aerobik moderat 150 menit seminggu hingga yang lebih tinggi 300 menit seminggu pada sesuatu yang disebut biomarker Kanker Payudara menengah atau zat dalam darah yang merupakan indikator risiko Kanker Payudara.

Lima hari seminggu selama satu tahun, para peserta dapat melakukan semua jenis aktivitas aerobik yang mereka inginkan. Mereka yang berada dalam kelompok "sedang" aerobik selama 30 menit sehari, dan mereka yang berada di kelompok "tinggi" aerobik selama satu jam sehari.

Hasilnya, biomarker secara keseluruhan membaik untuk kedua kelompok tersebut. Tidak ditemukan diantara kedua kelompok ini memiliki peningkatan berbeda secara signifikan lebih besar atau lebih baik dari yang lain. 

Artinya, melakukan olahraga dengan durasi sedang atau tinggi masih dapat mengurangi risiko Kanker Payudara

Tetapi bukan berarti, olahraga lebih lama tidak ada manfaatnya sama sekali. Menurut Christine Friedenreich, Ph.D., direktur sains di Alberta Health Service’s Department of Cancer Epidemiology and Prevention Research, wanita yang berolahraga 300 menit per minggu memiliki pengurangan lemak tubuh yang jauh lebih besar daripada mereka yang berolahraga lebih sedikit.

Dan, hal tersebut juga sangat penting diperhatikan, karena menurut Friedenreich, kelebihan Berat Badan atau Obesitas meningkatkan risiko Kanker Payudara pascamenopause.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Senin, 01 Juli 2019

Bahaya! Polusi Bisa Picu Kanker Payudara

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Kita semua mengetahui kalau Polusi Udara bisa menyebabkan penyakit paru-paru dan menyebabkan asma. Dan Polusi Udara menjadi kendala bagi semua orang yang hidup di perkotaan, termasuk Jakarta.


Ternyata, polusi bukan hanya merusak paru-paru saja. Tapi, Polusi Udara ternyata bisa menyebabkan kanker. Itu dikarenakan asap mengandung Bahan Kimia yang bisa menyebabkan Kanker Payudara. Emisi dari asap juga mengandung logam seperti merkuri dan cadmium yang bisa tersimpan di jaringan payudara dan menyebabkan kanker.

Salah satu indikator Kanker Payudara adalah jaringan sel pada payudara. Kajian mengenai kepadatan jaringan payudara bisa enam kali lipat menyebabkan kanker dibandingkan payudara yang tidak padat. Kepadatan itu dipengaruhi oleh Alkohol, Obesitas, dan Terapi Hormon. Payudara yang padat umumnya diisi oleh lemak.

“Payudara padat juga bisa diwariskan oleh gen. Tapi, payudara yang padat juga bisa dipicu oleh polusi,” kata Kefah Mokbel, pakar kesehatan dari Rumah Sakit St Georgedi London, dilansir AkuratHealth dari Daily Mail pada Senin, (1/7).

Penelitian yang pernah dilaksanakan pada April 2017 menunjukkan, perempuan yang tinggal di kota memiliki tingkat kepadatan lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan dimana Polusi Udaranya lebih rendah.

Yang menjadi permasalahan lanjutan adalah bagaimana Polusi Udara di dalam rumah? Menurut Mokbel, polusi di dalam rumah sulit diukur. Apalagi, di rumah juga mengandung banyak racun seperti produk pembersih lantai, plastik dan asap pembakaran kompor.

“Bahan kimia tersebut juga bisa memicu Kanker Payudara,” ujar Mokbel.

Dia menyarankan agar ibu-ibu membeli produk pembersih organik yang tidak mengandung Bahan Kimia yang merusak payudara. Pencegahan lainnya agar orang terbiasa mengonsumsi buah-buahan yang mengandung Antioksidan serta Sayuran.

“Vitamin D dan omega 3 juga bisa mengurangi kepadatan payudara,” jelas Mokbel.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges