Tampilkan postingan dengan label PornHub. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PornHub. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2019

Transformasi Media Sosial, dari Wadah Pertemanan hingga Penyokong Industri Porno Terbesar

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Bukan rahasia lagi media sosial dalam kehidupan sehari-hari telah merubah segala jenis kegiatan manusia sehari-hari. Komunikasi yang dulunya terbatas kini menjadi tidak terbatas, setiap orang bisa menyuarkan aspirasi-nya, kemudian demokrasi menjadi semakin nyata dengan media sosial.


Begitupula dengan kegiatan bisnis, dulunya dilakukan bertatap muka, kini dari jarak jauh pun transaksi bisa dilakukan dengan media sosial. Akses bisnis yang mudah mulai merevolusi industri tahap demi tahap.

Namun dibalik kemajuan itu, media sosial juga merupakan koin dengan dua sisi. Sisi gelapnya media sosial menjadi penyebaran hoax, perdagangan illegal dan tidak lepas dari itu industri porno tersebar dengan liar dan bisa dijalani siapa saja.

Dahulunya industri porno benar-benar terbatas, dari distribusinya harus di toko khusus dan akses menikmati industri hawa nafsu ini begitu terbatas.

Namun semenjak Fabian Thlymann dengan perusahaan mindgeek berhasil membawa porno masuk ranah media sosial seperti youtube. Fabian dengan tangannya berhasil menciptakan pornografi yang bisa diakses seperti medsos seperti pornhub dan Youporn layaknya youtube.

Dikutip dari laman dazeddigital, pergeseran pornografi diranah medosos ini menciptakan genre yang disebut amatir. Layaknya YouTube yang video bisa diciptakan oleh orang biasa, Pornografi amatir sering dibuat oleh non-profesional, namun menawarkan representasi yang lebih otentik.

“(Dalam gelombang ini) akan mambangun hubungan yang lebih manusiawi dan emosional sebelum Anda melihat mereka bercinta,” kata Paulita Pappel, wanita yang menjalankan situs percintaan intim pasangan asli dari Berlin.

“Yang luar biasa, (dalam film yang terlihat realita) Anda dapat lebih berhubungan dengan mereka.”

Pappel mengatakan, atas gelombar baru itu beberapa perusahaan memproduksi pornografi ‘amatir’, dan mendiktekan skrip seksual yang ketat kepada artis mereka, sesuai dengan apa yang mereka yakini ingin dilihat pelanggan atau penonton. Dengan kata lain, pornografi amatir juga tidak otentik atau nyata atau tidak asli, alias palsu.

Sementara itu, Dian Hanson, yang telah bekerja di industri porno sejak tahun 70-an, menjelaskan bagaimana sepanjang era keemasan atau golden age pornografi, sekitar tahun 1969-1984.

Pornografi dibuat hanya oleh perusahaan produksi bermodal besar, dan yang tampil di dalamnya melalalui pemilihan eksklusif seperti wanita paling cantik dan pria yang dipoles. Saat itu lebih mirip pembuatan film Hollywood daripada pornografi online sekarang ini.

Kemewahan industri membuat para pelaku pornografi tampaknya  tidak terjangkau oleh para fansnya tidak seperti para. Pornografi dulunya hanya sebuah tontonan yang fansnya tidak jelas.

Namun kini, kata Hanson, tren berkembang sehingga orang dapat terhubung secara digital dengan bintang film dewasa favorit mereka. Mereka dapat mengikuti idola mereka di Tumblr, Twitter dan Instagram, mengirim email kapan saja, dan bahkan membelikan mereka hadiah. Sekarang semua orang ingin mendekati orang-orang yang mereka kagumi.

Bahkan semenjak munculnya webcam dan media sosial, secara otomatis mengharuskan bintang pornografi diharapkan selalu dapat diakses dan responsif. Sehingga penikmat bisa berhubungan dengan mereka melampaui dari sekadar melihat mereka bertelanjang setelah syuting dalam bentuk vidio lewat medsos.


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Senin, 09 September 2019

Ini Alasan Dibalik Berhentinya Mia Khalifa dari Industri Porno

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Mia Khalifa memutuskan keluar sebagai bintang porno pada empat tahun lalu atau sejak tahun 2015, keputusan hengkang dari bintang film dewasa diambil karena ia menyadari bahwa merusak masa depannya.


Namun demikian, masih ada publik yang masih memberi stigma, tapi diakui Mia Khalifa itu sebagai tantangan, pernyataan tersebut ia ungkapkan dalam program bincang-bincang BBC Hardtalk bersama presenter Stephen Sackur, Jumat (6/9/2019) lalu.

Ketika terjun sebagai bintang porno pada 2014, Mia Khalifa tidak tahu jika keputusan yang dibuatnya itu bakal terus berdampak di masa depan.

Perempuan keturunan Lebanon itu mengungkapkan, awalnya dia tidak keberatan masuk ke industri film dewasa, Alasannya karena pada masa awal itu Mia Khalifa menyangka banyak perempuan melakukannya.

Mia menuturkan ada jutaan perempuan di dunia yang merekam aktivitas seksual mereka, dan Mia mengklaim tidak ada yang mengenalnya.

"Jadi saya pikir bisa menjadi rahasia kecil saya (karena tidak dikenali)," katanya.

Namun, dia tidak menyangka pada Desember 2014, namanya berada di daftar teratas video yang paling banyak dicari di situs pencarian dewasa Pornhub.

"Dampaknya baru terasa di kemudian hari. Video itu sudah menghancurkan hidup saya," katanya.

Dirinya juga mengaku dimanipulasi melakukan hal yang tidak diinginkannya.

Ancaman ISIS

Puncaknya adalah ketika dia menerima ancaman pembunuhan dari kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam salah satu video porno yang dibintanginya.

Ancaman dan kritik yang diperoleh dari warga Timur Tengah karena dia dianggap aib membuat sarjana sejarah itu memutuskan berhenti sebagai bintang porno, setelah berhenti pasca-tiga bulan terjun, stigma itu sudah melekat sedemikian kuat.

"Orang-orang memandang saya seolah pakaian tembus pandang, dan itu membuat saya malu," katanya.

Belum lagi fakta yang dia ungkapkan sendiri bahwa sepanjang terjun dalam film porno, dia hanya menghasilkan 12.000 dollar AS atau Rp 171,8 juta.

Meski begitu, dalam kicauannya di Twitter Agustus lalu sebagaimana diberitakan Hindustan Times, Mia Khalifa mengatakan dia siap berdamai dengan masa lalunya.

"Sengaja tidak membicarakannya ternyata jauh lebih menyakiti masa depan saya daripada mengungkapkannya.

Saya siap menjawab berbagai pertanyaan tentang masa lalu saya," katanya.

Selain itu, dia menyatakan dengan membuka masa lalunya, dia berharap bisa membantu perempuan lain, terutama yang berada di kondisi seperti dirinya atau korban perdagangan manusia.

Mia menjelaskan, dia membaca tentang hidup para gadis yang hancur karena dimanfaatkan oleh orang lain.

"Kenyataan itu yang membuat saya buka suara," paparnya.

Kini setelah tak lagi menjadi bintang porno, Mia diketahui pernah menjadi komentator olahraga bersama mantan pemain basket NBA Gilbert Arenas.

Kemudian pada Juli 2018, namanya diumumkan sebagai co-host acara bernama SportsBall bersama Tyler Coe yang disiarkan di perusahaan media Rooster Teeth. 


Sumber : Akurat.co
Editor : Ges