Tampilkan postingan dengan label Menuju Negara Ketiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju Negara Ketiga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2019

Kalau Negaraku Aman, Aku Tak Tinggal di Sini: Pahit Getir Pencari Suaka Bertahan di Jakarta

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Alasannya sama seperti pengungsi Afghanistan lainnya, Shakila mengajak ketiga anaknya kabur dari negara mereka yang digambarkan sudah hancur lebur.
* Mereka tidak punya pilihan selain menunggu. Kembali ke negara asal sudah tak mungkin karena sehari-hari harus menghadapi ancaman dan kekerasan dari kelompok Taliban.
* Peristiwa itu menjadi pemberitaan hangat di media massa. Pemerintah Jakarta pun segera mengambil langkah karena tak ingin melihat begitu banyak pencari suaka terdampar di Kebon Sirih.


***
Suatu Hari Kalau Kita Kena Bencana, Dunia Internasional Juga Bantu: Gugah Para Pemrotes Pencari Suaka
“We all deserve equal rights. Please register us.”

Kalimat tertulis di sebuah karton berwarna biru yang ditempelkan pada dinding sayap kanan gedung bekas Komando Distrik Militer, Kalideres, Jakarta Barat.

Tadi sebelum menemukan kalimat pengharapan para pencari suaka itu, pada pagar bewarna hijau terdapat tulisan peringatan bahwa warga negara asing dilarang ke luar masuk kawasan di atas pukul 22.00 WIB.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Di kawasan itulah sekarang hidup 1.200 sampai 1.400 pencari suaka dari 12 negara. Tempat hunian sementara ini disediakan pemerintah Jakarta. Pengungsi ditempatkan di sana untuk sementara waktu sambil menunggu perkembangan informasi dari UNHCR.

Para pengungsi mengisi semua ruang kosong. Ada yang tinggal di dalam gedung, emperan, hingga halaman dengan mendirikan tenda-tenda darurat.

Ketika saya datang ke sana awal pekan pertengahan Juli 2019, di salah satu area sedang berlangsung pemeriksaan kesehatan yang dilakukan petugas Puskesmas Kecamatan Kalideres. Sebagian besar pengungsi antre untuk diperiksa. Sebelum diperiksa, mereka terlebih dahulu diminta menunjukkan kartu identitas – semacam KTP -- yang dikeluarkan UNHCR.

Saya kemudian berjalan ke tenda berukuran besar yang terletak di sebelah kiri gedung. Tenda bertuliskan dinas sosial itu dipakai pengungsi yang tak kebagian tempat di dalam gedung.

Ketika saya melongok ke salah satu tenda, datang seorang remaja yang belakangan diketahui bernama Ali Nazari. Dia mencolek punggung saya dan berkata: “Darimana? Ada yang bisa saya bantu?”

Pemuda berusia 14 tahun itu berasal dari Afghanistan. Dia sudah setahun terdampar di Ibu Kota Jakarta. Anak muda yang mengenakan kaus putih itu bisa sedikit bahasa Indonesia, tetapi kemampuan bahasa Inggrisnya jauh lebih baik.

“Di sini banyak (pengungsi), 1.000-an orang, termasuk anak-anak,” kata Ali.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Tak lama kemudian datang pemuda lagi yang tak lain kakak kandung Ali, yang biasa dipanggil Nazari. Nazari sudah teregistrasi di UNHCR (masih menunggu penempatan di negara baru).

Nazari sudah tujuh tahun mengungsi di Indonesia. Nazari bersama sejumlah pencari suaka untuk sementara waktu tinggal di Serpong, Tangerang, Banten. Hari itu dia datang ke Kalideres untuk menjenguk Ali yang belum teregistrasi UNHCR. Karena belum teregistrasi, Ali masih ditempatkan di gedung eks Kodim.

Walau sudah cukup lama berada di Indonesia, kemampuan bahasa Indonesia yang dimiliki Nazari masih terbata-bata seperti adiknya.

“Kalau belum teregistrasi (UNHCR), kenapa?” tanya saya.

“Kalau belum, UNHCR tidak akan bertanggungjawab terhadap imigran,” kata Nazari.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Tidak lama setelah berbicang-bincang dengan Nazari, saya meminta bantuan Ali untuk berkomunikasi dengan sejumlah pengungsi asal Afghanistan yang umumnya hanya bisa berbahasa Persia.

Dia membawa saya ke halaman gedung sayap kanan. Di area itu banyak tenda berukuran kecil yang di dalamnya dipenuhi pengungsi.

Kami bertemu Shakila Tahiri. Perempuan berusia 39 tahun ini memiliki tiga orang anak: Syamsuddin (10), Syahlo (8), dan Abul Faiz (5). Mereka baru datang ke Jakarta sekitar enam bulan lalu.

Shakila dan ketiga anaknya menempati tenda warna hijau berukuran 200 x 120 x 110 sentimeter yang dibeli dari uang pribadi.

Suami Shakila sudah lebih dulu masuk Indonesia dan sekarang berada di tempat penampungan daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka pernah bertemu sekali, tetapi Shakila segera kembali ke Jakarta karena tidak ingin kehilangan informasi dari kantor UNHCR.

***
Alasannya sama seperti pengungsi Afghanistan lainnya, Shakila mengajak ketiga anaknya kabur dari negara mereka yang digambarkan sudah hancur lebur.

“Di situ nggak ada harapan, misal hari ini mau siap-siap mau berangkat kerja, keluar mati. Atau udah pulang kerja, tapi pulang mati. Anak mau pergi ke sekolah, mati nggak balik lagi. Ada anak-anak kecil seperti mereka berapa ratus orang mati, nggak ada kehidupan yang jelas di sana. Udah seperti zoo, hancur,” kata Shakila.

Shakila meyakini tidak akan terlalu lama menunggu di Indonesia untuk mendapatkan tempat baru.

Sesampai di Jakarta pada enam bulan yang lalu, dia dibantu Nazari (sesuai permintaan suami Shakila) mendapatkan tempat bermalam untuk sementara di Serpong, Tangerang, Banten.

Pencari suaka asal Afghanistan, Shakila. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Selanjutnya, dia dan pengungsi lainnya pindah tempat bermukim di tepi jalan, samping kantor perwakilan UNHCR, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, selama dua bulan. Mereka tinggal di sana sambil terus berharap UNHCR segera membantu mencarikan negara yang mau mengadopsi pencari suaka.

Mereka tidak punya pilihan selain menunggu. Kembali ke negara asal sudah tak mungkin karena sehari-hari harus menghadapi ancaman dan kekerasan dari kelompok Taliban.

Setiap hari, di dekat kantor UNHCR, para pencari suaka hanya bertahan dan bertahan menunggu. Mereka tidak bisa bekerja karena hukum di Indonesia melarang pencari suaka bekerja. Praktis, mereka hanya bisa menunggu bantuan atau kalau masih punya uang sisa, itulah yang mereka pakai untuk membeli makan dan minum.

“Datang ke UNHCR cuma dapat ID, tapi nggak dapat bantuan makan, tempat tinggal untuk sehari-harinya,” katanya.

Pada suatu hari ketika Abul Faiz – anak bungsu Shakila – sedang duduk di trotoar, sebuah sepeda motor menabraknya. Abul Faiz terluka. Kemudian dia dibawa ke puskesmas terdekat. Shakila sedih sekali karena tak punya dana ketika itu. Tetapi kesedihan itu segera hilang – meski sementara -- karena petugas puskesmas tidak membebani biaya pengobatan Abul Faiz.

Pada waktu kabur dari Afghanistan, Shakila hanya membawa beberapa potong pakaian. Itu sebabnya, selama di Jakarta, dia dan anak-anaknya hanya memakai pakaian yang itu-itu saja.

Pencari suaka asal Afghanistan, Shakila. AKURAT.CO/Maidian Reviani
“Kita nggak bisa bawa barang banyak-banyak, satu wanita bawa tiga anak itu gimana,” kata Shakila.

Imbas dari hanya memakai pakaian yang itu-itu saja dan jarang dicuci (karena sulit cari tempat cuci pakaian), anak-anak Shakila kerap mengalami gatal-gatal.

“Anak-anak badannya pada kotor, bau, beberapa hari nggak ganti baju, nggak mandi. Jalanan kecil, bau, panas, anak-anak baru datang juga badannya pada sakit, gatel-gatel, korengan,” katanya.

Shakila maupun pencari suaka lainnya tidak tahu sampai kapan harus merasakan penderitaan fisik maupun mental. Tak tahu sampai kapan menunggu informasi ada negara yang mau mengadopsi pencari suaka.

Shakila bersyukur, walau tidak ada hari yang santai karena sejak menginjakkan kaki di Indonesia selalu pindah-pindah tempat pengungsian, ada saja orang Indonesia yang baik.

Misalnya, terkadang ada warga yang bersedia kamar mandinya dipakai untuk mandi anak-anak.

“Tapi ada juga yang nggak mau kasih masuk (ke kamar mandi). Mandi susah, cuci baju susah,” ujarnya.

Sebelum bermukim di tenda samping kantor UNHCR, sebenarnya Shakila berada di Makassar, Sulawesi Selatan, ikut suami yang mendapat tempat penampungan di sana. Tetapi dia tidak bisa lama-lama di Makassar karena dihubungi perwakilan UNHCR.

Waktu mendapatkan telepon itu, dia merasa impian mendapatkan izin ke negara ketiga untuk meniti kehidupan yang lebih baik sudah di depan mata. Sesampai di Jakarta, ternyata dia harus menunggu lagi.

Kepada saya, dia menyampaikan uneg-uneg betapa besar harapannya kepada perwakilan UNHCR.

“Lihat sendiri, siapa suka anaknya (hidup) begini, tinggal seperti ini, tidak suka kan?” katanya.

Pencari suaka asal Afghanistan, Shakila. AKURAT.CO/Maidian Reviani
“Kalau negaraku aman, kenapa aku tinggal di sini, kan di negaraku enak-enak. Aku nggak dateng buat makan di sini, bukan untuk makan gratis. Tapi kalau aku nggak aman, bagaimana?”

Setelah dua bulan mengungsi di Kebon Sirih, Shakila dan keluarga mendapat bantuan tempat tinggal sementara di salah satu panti asuhan.

“Ada panti asuhan itu bantu-bantu orang susah. Dapat bantuan uang dari mereka. Tapi itu buat sementara, katanya bulan depan atau kapan dia bilang aku sudah nggak bisa bantu lagi. Mereka nggak jamin bisa lama di sana,” kata dia.

Setelah panti asuhan menghentikan bantuan, Shakila membawa ketiga anaknya kembali mengungsi di samping kantor perwakilan UNHCR. Waktu itu di sana sudah ada ratusan pencari suaka (yang sebelumnya berada di sekitar rumah detensi Kalideres atau di sejumlah rumah sewaan) yang bernasib sama. Mereka meminta UNHCR segera menentukan negara dunia ketiga mana yang mau menerima pencari suaka.

Peristiwa itu menjadi pemberitaan hangat di media massa. Pemerintah Jakarta pun segera mengambil langkah karena tak ingin melihat begitu banyak pencari suaka terdampar di Kebon Sirih. Dicarikanlah tempat penampungan baru di Kalideres.

Setelah ratusan pencari suaka menginap satu malam di sekitar kantor UHNCR, mereka direlokasi ke tempat baru.

Shakila berterimakasih kepada Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang dianggapnya peduli dengan nasib pencari suaka dengan menyediakan tempat hunian sementara.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
“Sekarang kita meski terimakasih kepada gubernur Jakarta, kalau kita bisa cium tangan dia. Dia kasih chance (kesempatan) untuk orang imigran seperti ini.”

“Kemarin kita tinggal lama di Kebon Sirih, lihat mereka (orang-orang UNHCR) pakai mobil mewah, gajinya gede-gede, dari atas jendela mereka lihat (imigran), mereka pakai AC di situ. Tapi gubernur tahu ada orang susah begini, langsung kasih chance (kesempatan) bagus ke imigran. Banyak mau terimakasih, kita nggak bisa kasih apa-apa, tapi kita bisa beroda untuk pak gubernur.”

Suasana hati Shakila tercermin dari kalimat yang meluncur deras dari mulutnya. Masa penantian yang sangat panjang dan tak pasti jelas-jelas berdampak pada emosionalnya.

Walau bimbang, Shakila tetap berusaha meyakini nasib baik akan berpihak padanya, terutama anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Dia tetap bermimpi pada suatu hari nanti akan diterima negara Australia, Kanada, atau Amerika Serikat.

“Terimakasih juga untuk negara Indonesia, karena nggak ada yang gangguin. Bertahun-tahun banyak imigran di sini, tapi nggak ada yang ganggu, jahat, kita terima kasih juga.”

Di gedung eks Kodim, kebutuhan makan, minum, serta istirahat lebih terjamin. Mereka mendapatkan bantuan makanan dari dinas sosial sebanyak dua kali sehari, siang dan malam. Menu makanannya, seperti ikan, tempe, mie, dan nasi putih. Sebenarnya, pemerintah Jakarta pada awalnya hanya menyanggupi membantu selama tujuh hari, tetapi belakangan diperpanjang sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Siang itu, saya melihat beberapa pencari suaka berdiri antre untuk mengisi botol air minum dari dispenser yang ditempatkan di salah satu area.

Dinas sosial juga menyediakan toilet umum. Tetapi menurut Nazari, toilet itu banyak yang rusak karena begitu banyak orang yang giliran memanfaatkannya.

Toilet di tempat penampungan Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Bahkan ketika saya ingin buang air kecil saja, toilet yang penutupnya berwarna oranye itu tidak dapat ditutup, karena pintunya rusak. Terpaksalah saya minta bantuan petugas untuk menahan pintu agar tidak terbuka.

Untuk mandi, sebagian besar para pencari suaka harus pergi ke tempat mandi umum di ujung jalan yang jaraknya sekitar 180 meter dari tempat mengungsi. “Bayar (mandi) setiap masuk Rp3 ribu,” ujar Ali.

Saya dan Ali pun mendatangi kamar mandi umum itu. Tulisan tarif Rp2 ribu untuk berak dan Rp3 ribu untuk mandi terpampang di dinding toilet. Beberapa imigran ketika itu sedang antre menggunakan kamar mandi.

Toilet yang digunakan pencari suaka. AKURAT.CO/Maidian Reviani
***

Seorang lelaki paruh baya menggandeng tangan seorang murid sekolah di sebelah tempat pengungsian sementara. Mereka agaknya warga Kalideres. Mereka berjalan kaki dengan santai meninggalkan gedung sekolah.

Pemandangan itu menakjubkan buat Ali.

“Di sini enak ya bisa seperti itu, di sana mana ada seperti ini, yang ada lari-lari (menyelamatkan diri dari Taliban),” ujar Ali.

Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Kisah Pelarian Ibu dan Putrinya dari Afghanistan ke Jakarta

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Laporan edisi pekan ini menghadirkan kisah pelarian para korban perang maupun pelanggaran HAM di negara mereka sendiri menuju tanah baru.


Bagaimana mereka memutuskan melarikan diri dari bangsa sendiri, pahit getir di perjalanan, sampai membayar agen untuk menyelundupkan mereka ke negara lain, ditulis di bagian awal.

Suatu Hari Kalau Kita Kena Bencana, Dunia Internasional Juga Bantu: Gugah Para Pemrotes Pencari Suaka
Ternyata untuk sampai ke negara ketiga, seperti Australia, tidak mudah. Izin masuk ke sana bagi para pencari suaka sangat ketat. Sebagian besar dari mereka kini terdampar di negara-negara tertentu, seperti di Indonesia. Di negara transit, mereka kembali menghadapi persoalan baru yang tak kalah kompleks. Suka duka para pencari suaka selama di Jakarta ditulis dalam laporan bagian tengah.

Di bagian akhir laporan mengetengahkan bagaimana reaksi masyarakat sekitar tempat pengungsian yang ternyata pro dan kontra serta apa yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk melindungi pencari suaka. Akhir laporan adalah bagian yang tak kalah penting yaitu mengenai apa sikap UNHCR terhadap para pencari suaka yang dikemas dalam bentuk interview khusus. Selamat membaca.

***
* Kelompok Taliban digambarkan sebagai pelanggar hak asasi manusia yang kejam. Mereka tega membunuh orang-orang tak berdosa.
* Dua saudara kandung Anisa dibunuh pada suatu malam. Sedangkan kakak lelakinya selamat, tetapi cacat seumur hidup karena ditembak.
* Hampir setiap hari, banyak keluarga di negerinya menyaksikan salah satu dari mereka dibunuh.

***
“Mama meninggal di masjid, karena masjid dibom. Bapak juga sudah tua, sudah sangat ketakutan karena mana bisa lari-lari seperti anak muda, hatinya telah rusak setelah ditinggal Mama, akhirnya meninggal,” kata Anisa Husseni, seorang pengungsi asal Afghanistan.

Anisa, perempuan berusia 24 tahun. Dia ingat betul peristiwa tragis yang menimpa ayah dan ibunda akibat kebrutalan gerilyawan Taliban. Dia gambarkan kelompok Taliban sebagai pelanggar hak asasi manusia yang kejam.

“Kalau orang Taliban dia ambil jalan orang, misal kalau kita mau ke Bogor, dia tutup jalan. Nanti orang mau lewat dia bunuh atau ada polisi dia harus dibunuh (bunuh). Kalau dia mau bunuh, kita nggak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Anisa.

Pencari Suaka asal Afghanistan, Anisa. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Siang hari itu, saya menemui Anisa di gedung eks Komando Distrik Militer, Kalideres, Jakarta Barat. Bekas gedung militer itu kini disulap oleh pemerintah Jakarta menjadi tempat penampungan sementara bagi para pencari suaka yang terdampar di Jakarta, menunggu penempatan ke negara tujuan.

Anisa bersama sekitar 1.200 orang sampai 1.400 orang pencari dari 12 negara sekarang menghuni tenda-tenda darurat. Menurut data Dinas Sosial pada Rabu 17 Juli 2019, 12 negara itu meliputi Afghanistan, Pakistan, Sudan, Iran, Irak, Yaman, Somalia, Ethiopia, Eritrea, Suriah, Palestina, dan Cina. Tetapi secara keseluruhan, jumlah pencari suaka yang tersebar di berbagai berada di Indonesia mencapai 14 ribu.

Ibu anak satu ini tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi Indonesia. Dia bicara dengan bahasa Persia. Untungnya, ada Ali Nazari yang baik hati. Lelaki berusia 14 tahun itu juga dari Afghanistan, tetapi sudah lebih dulu tinggal di Jakarta. Dialah yang menerjemahkan ucapan Anisa ketika saya wawancara, walau tidak begitu jelas sehingga harus diulang-ulang.

Tak hanya orangtua Anisa yang menjadi korban kebrutalan kelompok Taliban, dua saudara kandung Anisa dibunuh pada suatu malam. Sedangkan kakak lelakinya selamat, tetapi cacat seumur hidup karena ditembak. Salah satu tangannya buntung dan salah satu kakinya pincang. Sekarang, dengan segala keterbatasan, kakak Anisa masih bertahan di Afghanistan.

“Taliban udah ambil apapun dari hidupnya (kakak Anisa), dia (kakak Anisa) udah nggak punya apa-apa di Afghanistan. Hidupnya susah, dia nggak bisa kerja, dia nggak bisa apa-apa,” kata Anisa sembari mengelap keringat di jidatnya.

Anisa menggambarkan gerilyawan Taliban sebagai kelompok yang tidak mengenal orang dewasa maupun anak kecil. Siapapun yang ada di hadapannya bisa langsung dibantai.

Hampir setiap hari, banyak keluarga di negerinya menyaksikan salah satu dari mereka dibunuh.

Pencari Suaka asal Afghanistan, Anisa. AKURAT.CO/Maidian Reviani
“Misal istri, anak, anak, terus suami, di depan family-nya itu suaminya dibunuh. Anak yang lima bulan, dua bulan dibunuh di depan family-nya. Nggak penting buat dia (Taliban) orang. Rumah-rumah di situ udah rusak, kena bom, dah nggak ada rumah-rumah di sana lagi. Main-main (sex) sama wanita dewasa, anak perempuan yang masih kecil.”

Terutama anak-anak tak berdosa. Mereka paling merasakan kekejaman perang. Anak-anak tidak bisa bermain, apalagi sekolah. Banyak gedung tempat belajar yang dihancurkan dengan bom.

Anisa tidak bisa lebih lama lagi bertahan hidup di tengah-tengah kekejaman di negerinya. Dia memutuskan untuk melarikan diri.

Anisa memiliki impian menyusun kehidupan baru. Dia bertekad menyusul suami yang lima tahun sebelumnya sudah lebih dulu melarikan diri dari Afghanistan dan sekarang mendapat tempat sementara di Indonesia, tepatnya Serpong, Tangerang, Banten.

Pada suatu hari, pasukan Taliban mendekati kediaman Anisa. Tak mau buang-buang waktu lagi, dia dan putrinya cepat-cepat lari meninggalkan rumah. Naas bagi dua saudara kandung Anisa yang langsung dibunuh gerilyawan.

Anisa menyelamatkan diri ke arah pegunungan dengan mengendarai mobil. Tetapi untuk menemukan tempat aman di sana, tidaklah gratis. Ada saja yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan di tengah penderitaan. Dia harus membayar sejumlah uang kepada orang yang menjanjikan dapat menunjukkan rute ke daerah aman.

“Misal kayak dari sini ke Bogor kan dekat, tapi di Bogor tempat aman. Tapi satu orang kalau mau ke tempat aman harus bayar, kalau dirupiahin mungkin Rp10 juta dari sini ke Bogor harus bayar masuk. Karena takut, akhirnya kita kasih duit itu, kita jual mobil kita supaya bisa pergi ke tempat aman,” ujarnya.

Sesampai di tempat aman, Anisa ternyata tak bisa langsung selonjoran kaki. Ketakutan terus menerus menyelimuti. Gerilyawan Taliban berkeliaran dimana-mana.

“Kita berapa hari nggak makan, tapi seperti sudah makan, kenyang, seperti itu. Kita udah lupa makan, pokoknya cari tempat yang aman saja. Karena orang di sana belum percaya 1 menit saja bisa hidup, karena Taliban ada dimana-mana.”

Anak perempuannya menjadi salah satu alasan bagi dia untuk tetap kuat berdiri. Sebenarnya dia sangat kasihan dengan putrinya karena selalu menangis, menahan lapar dan lelah yang amat sangat.

Di perjalanan, Anisa sering menyaksikan anak-anak meninggal karena menangis terus – menahan lapar dan lelah.

“Di sana (tempat aman) juga mulai fighting-fighting (Taliban). Habis itu dari sana pindah lagi ke tempat yang aman. Dan dari situ komunikasi sama suami katanya datang ke Indonesia saja, nggak usah di sana (Afghanistan) lagi, karena hidupnya susah banget,” kata dia.

Perjuangan berikutnya dilalui Anisa maupun warga Afghanistan lainnya setelah ke luar dari tempat aman menuju bandara pada suatu malam. Anisa sama sekali tak punya bekal apapun.

“Kita naik transportasi mobil ke bandara. Cuma nggak ada barang-barang yang kita bawa, (waktu itu) ke luar malam hari,” kata Anisa.

Setelah bertaruh nyawa, Anisa dan putrinya selamat sampai bandara. Dia sudah siap dengan segala kondisi yang bakal terjadi setelah ini, menuju tanah harapan baru.

***
Anisa dan putrinya melakukan perjalanan ke Asia Tenggara menggunakan agen. Ongkos yang mereka keluarkan sebesar 8.000 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp111.344.000.

“Itupun (sekarang) belum dibayar (utang), nanti kita cari duit nggak tahu darimana,” kata Anisa.

Ali yang mengikuti saya selama proses wawancara dengan Anisa menambahkan sulit sekali bagi pencari suaka asal Afghanistan melarikan diri ke luar negeri tanpa menggunakan jasa agen. Afghanistan menjadi negara yang diblacklist karena merupakan daerah konflik dan juga banyak dari masyarakatnya meninggalkan negara dan tidak kembali lagi.

“Kalau mau datang langsung ke negara lain, misal kalau ada yang mau usaha di sini, harus ada jaminan, itu baru bisa. Jadi kalau langsung nggak bisa, harus sama agen,” kata Ali.

Itu sebabnya, kata dia, banyak pengungsi Afghanistan di berbagai negara yang tidak lagi memegang paspor. Paspor mereka rata-rata ditahan agen.

Pencari Suaka asal Afghanistan, Anisa. AKURAT.CO/Maidian Reviani
“Jadi diambil supaya aman. Orang imigran yang dia waktu sampai di Indonesia atau di manapun, diambil paspor kita dan nggak dikasih lagi, hilang, sudah tidak ada. Paspor aku sama mamah aku juga sudah hilang, karena dipegang sama dia (agen).”

“Jadi intinya ada orang yang mengurusi transportasi kita dari sana ke sini (Jakarta). Dia kita bayar pokoknya untuk mengurusi kita,” tambah dia.

Pesawat yang membawa Anisa dari Afghanistan transit di beberapa negara, seperti India, Singapura, Malaysia, sebelum ke Jakarta.

Anisa punya cerita ketika tertahan di India. Agen meminta dia membayar ongkos perjalanan dulu. Dia terpaksa mencari pekerjaan di sana selama tiga bulan dan hasilnya ternyata jauh dari harapan.

“Tapi sampai sini (Indonesia) juga belum bisa bayar. Waktu sampai ke Indonesia, agen itu setiap hari kontek, kalau kamu nggak bayar aku ambil anak kamu. Aku di sini nggak ada apa-apa, rumah nggak ada, kerja belum bisa. Tapi sekarang udah dibuang nomor agennya, jadi nggak tahu sekarang bagaimana,” ujar dia.

Singkat cerita, dia bisa terbang lagi menuju Malaysia. Sepanjang perjalanan, Anisa kembali berdoa supaya cepat sampai.

“Yang lama itu dari India ke Malaysia, sekitar 6-8 jam,” katanya.

“Setelah kabur, feelingnya bagus karena udah lari dari Taliban. Tapi kalau ingat bayar utang, sedih, karena nggak tahu bagaimana nanti bayarnya,” dia menambahkan.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan itu, akhirnya Anisa dan putrinya tiba di Jakarta.

Anisa tidak hafal nama bandara yang didarati pesawatnya hari itu. Dia cepat-cepat menuju bagian imigrasi karena ingin segera ketemu suami.

Di kantor imigrasi bandara, Anisa menjalani interogasi singkat. Dia bersyukur prosesnya berlangsung lancar.

“Ditanya bapak sama mamahnya dimana. Pokoknya cari alasan kenapa keluar dari Afghanistan, ditanya itu saja,” kata dia.

Setelah lolos dari pemeriksaan di imigrasi, Anisa dan putrinya langsung menuju tempat penjemputan.

Agen yang menyeberangkan Anisa ke Jakarta, membekali sejumlah uang yang kemudian dipakai untuk membayar taksi online yang mengantarkan ke Serpong. Tapi sebelum masuk mobil, petugas agen mengambil paspor Anisa dan putrinya.

“Kita langsung ke Serpong, karena suami ada di sana. Kita dari sana, dia (agen) kasih duit, kalau kita dapat duit nanti kita kasih ke Grabnya,” ujar dia.

***

Taksi online meluncur ke sebuah tempat. Di situlah, Anisa dan putrinya akhirnya berhasil jumpa orang yang selama ini memberi harapan.

Pertemuan pertama Anisa dan suami berlangsung biasa-biasa, walau mereka sudah bertahun-tahun tak ketemu. Rasa lelah yang dirasakan Anisa seakan-akan membuatnya tak bisa mengekspresikan lagi rasa suka cita.

“Feeling aku nggak bagus, takut, capek. Anak waktu lihat bapaknya udah manggil-manggil, itu bapak aku, terus digendong,“ kata dia.

Untuk sejenak, di sebuah tempat tinggal di Serpong, mereka melupakan perjuangan berat berikutnya yang sudah menanti, untuk mendapatkan tiket suaka yang tidak tahu sampai kapan.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Anisa tak bisa lama-lama tinggal di tempat suami. Menurut peraturan pengungsi yang bisa tinggal di sana hanya yang sudah teregistrasi United Nations High Commissioner for Refugees.

Itu sebabnya, setiap hari, Anisa dan putrinya berpindah-pindah, tinggal di satu tempat pengungsi ke tempat pengungsi yang lain.

Sampai akhirnya mereka pindah ke depan rumah detensi imigrasi, Kalideres (sebelum dipindah ke bekas gedung Kodim). Di sana, mereka tinggal di emperan bersama para pencari suaka lainnya.

Di negeri baru ini, mereka menghadapi perjuangan berat untuk bertahan hidup dan mencari kepastian negara yang mau menerima pengungsi korban perang.

Tetapi kalau dibanding-bandingkan, perjuangan hidup di Jakarta tak seberapa berat kalau membayangkan kebengisan Taliban.

Selama tinggal di Kalideres, Anisa dan para pengungsi lainnya seringkali mendapatkan bantuan cuma-cuma dari masyarakat.

“Cuma kasih makanan aja kalau ada orang lewat. Kalau mandi di masjid,” ujarnya.

Sebenarnya Anisa maupun pengungsi lainnya ingin berinteraksi dengan masyarakat. Hanya saja, mereka tidak bisa melakukan itu karena tidak bisa bicara dengan bahasa Indonesia.

Itu sebabnya, mereka lebih banyak beraktivitas dalam komunitas.

“Kita nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi untung suami bisa Bahasa Indonesia, jadi bisa terbantu sedikit,” kata dia.

Anisa juga memegang kartu identitas yang dikeluarkan UNHCR. Kartu ini yang melindunginya.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani
Anisa yang ketika saya temui mengenakan baju warna merah memuji negara Indonesia yang jauh lebih aman ketimbang negaranya yang setiap hari terjadi kekejaman. Dia juga suka dengan sikap orang Indonesia yang memiliki sopan santun.

“Di sini lebih bagus dari Afghanistan. Tempatnya aman, meski kita juga nggak ada tempat tinggal, tapi lebih bagus dari pada perang di Afghanistan. Di sini orang-orangnya ramah,” kata Anisa.

“Problem itu nggak ada, cuma masalah tempat aja, nggak pernah ngalamin hal buruk,” dia menambahkan.

Pada awal Juli 2019 lalu, ratusan pencari suaka mendatangi kantor UNHCR yang berada di Kebon Sirih, Jakarta, Pusat. Mereka menginap di depan kantor semalam untuk meminta lembaga itu mengerti keadaan mereka: membantu menempatkan pengungsi ke negara penerima.

“Kita cuma minta satu chance (kesempatan), tempat yang aman, tempat kita sendiri. Masalahnya kita juga nggak tahu UNHCR udah registration apa belum,” ujarnya.

Mereka berharap betul segera mendapatkan kepastian. Masalahnya, Indonesia bukan negara yang ikut menandatangani konvensi tentang pengungsi tahun 1951 sehingga negeri ini cuma dapat menjadi tempat transit sebelum lembaga PBB itu menempatkan mereka ke negara tertentu.

“Kita juga nggak tahu mau kemana. Tapi yang kita mau banyakan ke Australia. Karena imigran di sana ada banyak, terus ada kerja banyak untuk kita, di sana ada pekerjaan. Mau kerja di sana lebih gampang. Kita mau ke luar dari tempat ini (Indonesia), minta tolong dari government Indonesia atau UNHCR udah itu aja.”

Sumber : Akurat.co
Editor : Ges