Tampilkan postingan dengan label Kata Dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Dokter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2019

Sudah Seharusnya Orangtua Tahu Penanganan Komplikasi Anak Usai Sunat

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Ketika ingin mengajak anak melakukan Sirkumsisi atau biasa disebut dengan Sunat, sebagian orangtua mungkin hanya terfokus pada proses Sirkumsisinya saja.


Karena, memang proses tersebutlah yang membuat kebanyakan anak ogah disunat. Tapi penting diketahui sebagai orangtua, tak hanya saat proses Sunatnya saja yang penting Anda khawatirkan.

Namun, proses pasca Sunat juga harus diperhatikan dan diketahui. Karena, dokter Spesialis Bedah Anak, dr. Yessi Eldiyani, Sp. BA, mengatakan, tidak ada yang sempurna, bahkan operasi Sirkumsisi yang tergolong tindakan yang tidak terlalu sulit, dapat menghasilkan Infeksi ataupun Komplikasi.

Dirinya mengatakan, Komplikasi dari Sirkumsisi yang penting diketahui misalnya, Infeksi Luka operasi setelah Sirkumsisi. Walaupun sangat jarang, dengan insidensi kurang dari lima persen, tetap saja kemungkinan kecil tersebut bisa terjadi pada siapapun.

Ketika orangtua mengetahui apa saja kemungkinan yang akan terjadi, tentunya akan lebih memudahkan anak mendapatkan penanganan yang lebih cepat dan tepat. Misalnya, Infeksi setelah proses Sunat ini dapat ditangani dengan pemberian antibiotik oral, dan memandikan anak dengan teratur, bukan malah membiarkannya tidak mandi-mandi.

"Pasien juga dapat mengalami perdarahan setelah tindakan Sirkumsisi. Apabila terjadi perdarahan ringan di sela-sela jahitan Sirkumsisi dan tidak sampai mengalir atau perdarahan yang terjadi saat anak ereksi di pagi hari, pada satu sampai dua hari pertama setelah tindakan. Jenis perdarahan itu masih dianggap normal," katanya, dalam siaran pers yang dibagikannya kepada AkuratHealth.

"Ketika terjadi perdarahan tersebut, cukup dikeringkan dan dioles salep antibiotika topikal untuk membantu proses penyembuhan dan mencegah Infeksi. Namun demikian, segera konsultasikan dengan dokter apabila setelah Sirkumsisi ditemukan perdarahan yang tidak wajar dengan jumlah banyak, mengalir tidak berhenti setelah ditekan dengan kain kassa," lanjutnya.

Masalah lain yang dapat terjadi setelah tindakan Sirkumsisi adalah meatal stenosis, yaitu penyempitan atau perlekatan pada muara saluran kemih. Keadaan tersebut dapat terjadi pada 11 persen kasus pasien Sirkumsisi.

Pada bayi, hal tersebut berhubungan dengan dermatitis yang disebabkan karena kontak dengan popok sekali pakai (diapers), sedangkan pada anak yang lebih besar hal ini berhubungan dengan balanitis xerotica obliterans (BXO) atau sering disebut peradangan pada kelamin pria.

Jika penyempitan atau pelekatan ini terjadi, segera bawa sang buah hati kepada tim medis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

So, karena ini terkaitan dengan organ vital, jangan coba-coba melakukan penanganan yang tidak pasti informasinya datang dari darimana.

Sumber : Akurat.co
Editor : Ges

Selasa, 06 Agustus 2019

Mematikan, Dokter Ahli Ajak Masyarakat Kenali Kanker Otak Sejak Dini

Salam sejahtera bagi pembaca Berita Good Day, kali ini saya akan memberikan berita terhangat yang Saya baca di artikel artikel terkait, Pasca meninggalnya Agung Hercules, media ramai mengulas soal Kanker Otak yang diidap almarhum. Dokter spesialis saraf, I ketut Sumada, Sp.S dari RSUD Wangaya, Bali, meminta masyarakat mengenali keberadaan kanker dan Tumor otak sejak dini.


"Jadi munculnya kanker atau Tumor harus diperhatikan sejak dini. Harus diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," katanya di Denpasar, Selasa, (6/8).

Tumor otak secara umum biasanya berawal dari keluhan pasien berupa sakit kepala, disertai reaksi muntah setiap hari dan penglihatan mulai kabur, serta sering kesemutan di badan.

Sumada juga menegaskan bahwa apabila sakit kepala tersebut telah dirasakan lebih dari tiga bulan, dan juga penglihatan kabur disertai dengan kesemutan seluruh tubuh, maka dapat dikatakan kondisi tersebut mendekati Tumor otak.

Untuk itu, apabila tanda-tanda tersebut mulai dirasakan dalam rentang waktu yang cukup lama, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara klinis.

Pemeriksaan dilakukan melalui tahap CT Scan, untuk dapat melihat jenis Tumornya.

"Kalau sudah muncul tanda itu berarti mendekati pada Tumor otak. Jadi harus diperiksakan, apa betul Tumor otak. CT Scan yang akan membuktikan apakah masuk dalam Tumor ganas atau jinak dan juga besar atau kecilnya," jelasnya.

Ia juga menjelaskan, dalam hasil pemeriksaan, apabila posisi ditemukan Tumor otak tersebut berada di bagian tengah, maka dapat disebut sebagai Tumor ganas. Proses pengobatannya disertai dengan kemoterapi dan radioterapi.

Penyebab yang dapat memicu munculnya kanker atau Tumor otak berasal dari polusi udara seperti asap kendaraan dan juga mengkonsumsi makanan yang mengandung karsinogenik secara berlebihan.

"Penyebabnya banyak hal, apalagi sekarang banyak sekali polusi udara atau polusi makanan, seperti buah-buah yang disemprot pestisida, biar tahan lama padahal kandungan buah itu ketika disemprot pestisida sangat berbahaya bagi kesehatan," ujarnya.

Munculnya kanker atau Tumor otak juga dapat disebabkan dari faktor genetik. Untuk pencegahannya, jika dari awal diketahui memiliki riwayat kanker dari orangtua, maka harus diseimbangkan dengan pola hidup sehat.

Selain itu juga, disarankan untuk menghindari makanan dan minuman yang berasal dari bahan karsinogenik yang memicu kanker.

Sumber : Akurat.co
Editor : Ges